Pengalaman Di Pulau Bangka

Pengalaman Di Pulau Bangka

(By Adrian Fajriansyah 06/01/2012)

Gambar 1.  Mercesuar Tanjung Kelian Pulau Bangka

A.  Pengalaman Seru di Bangka

Lagi pengen banget paket kata “alkisah” biar gayanya kayak cerita atau sebuah kisah masa lalu yang sangat historikal banget maka dari itu untuk cerita kali ini akan di awali dengan kata “alkisah”.

Alkisah pada kamis, 29 Desember 2011 ada empat pemuda saya sendiri Adrian Fajriansyah, M. Hafid Fitrian, Kgs M. Habibillah dan Almaarif PP bergegas menujuh pelabuhan Boom Baru Palembang pada pukul 6 pagi untuk mengejar Jet Poil Sumber Bangka yang akan berangkat tepat pukul 7 pagi oleh karena itu kami berempat tidak boleh kesiangan apalagi telat.

Hari itu kami berempat ingin pergi berlibur menghabiskan tahun baru di tetangga Negeri Laskar Pelangi yaitu Pulau Bangka.  Selama di Bangka kami berempat akan menumpang tinggal di rumah saudara M. Hafid Fitrian.

Pejalanan menggunakan Jet Poil Sumber Bangka 7 dari Pelabuhan Boom Baru Palembang menujuh Pelabuhan Mentok Bangka kami tempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam dengan rincian kami berangkat dari Palembang pukul 7 sampai di Bangka pukul 10 pagi.  Selama di dalam Jet poil kami berempat menimati suasana unik kehidupan disekitar Sungai Musi Palembang mulai dari perahu nelayan yang banyak lalu lalang di Sungai, kemudian anak-anak sungai yang banyak berkeliaran memintak uang receh kepada para penumpang Jet Poil dan Kapal Ferry yang lewat, hingga hutan bakau yang lebat di ujung Sungai Musi sesaat sebelum memasuki laut lepas atau Laut Selat Bangka.

Perjalanan menghitari Sungai Musi menggunakan Jet Poil kami lalui kurang lebih selama 2 jam, lalu kemudian Jet Poil memasuki area laut lepas Selat Bangka kurang lebih selama 1 jam hingga sampai di pelabuhan Mentok Bangka.

Selama Jet Poil berada di atas laut lepas Selat Bangka kita akan merasakan hempasan gelombang ombak yang mengayun-ayunkan kapal poil, sensasi ayunan poil yang dihempasankan oleh gelombang ombak laut Selat Bangka cukup memacu adrenalin anda dan bila ada dari anda yang mabuk laut siap-siap untuk menyediahkan kantung plastik sebagai persiapan apabilan anda muntah.

Sesampainya di Pelabuhan Mentok Pulau Bangka kami langsung disambut oleh Mercusuar yang kokoh nan elok, mercusuar itu sendiri dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1800an sebagai penuntun bagi kapal-kapal yang ingin bersandar di Pelabuhan Mentok Bangka.

Kami berempat menyempatkan diri untuk berfoto dengan latar belakang Mercusuar Pelabuhan Mentok sebagai tanda kami telah sampai di Pulau Bangka sebelum kami berempat melanjutkan perjalanan ke Pangkal Pinang Ibu Kota Propinsi Babel dengan menggunakan Bus Engkel Garuda 10.

Perjalanan dari Mentok menujuh Pangkal Pinang menghabisakan waktu kurang lebih 2.5 jam dengan menggunakan Bus Engkel Garuda 10.  Jalan dari Mentok ke Pangkal Pinang sangat bagus dan mulus tampaknya jalan ini baru saja diperbaiki, suasana selama perjalan dari Mentok ke Pangkal Pinang cukup tenang karena tidak terlalu banyak mobil yang lalu lalang sehingga mobil yang kami tumpangi dapat dipicuh dengan kecepatan tinggi, namun ingat kita harus tetap wasapada karena keadaan jalan dari Mentok ke Pangkal Pinang cukup berliku-liku dan banyak tanjakan serta turunan yang terjal.

Selama diperjalanan saya memperhatikan suasana kehidupan dan bangunan yang banyak terlihat dipinggiran jalan karena ini pertama kalinya saya menginjakan kaki di Pulau Bangka sehingga semua hal yang terlihat sangat unik, mulai dari suasana di Bangka yang sangat tenang dan damai juga bentuk bangunan yang terdapat di Bangka sangat unik dan tampak kuno, dari bentuk bangunan yang banyak terdapat di Bangka ini pula tergambar bahwa Bangka telah eksis dari jaman dahulu.

Di Bangka anda akan sering menjumpai bangunan kuno berarsitektur eropa bekas peninggalan penjajah Belanda hal ini dikarenakan Bangka sudah sejak dari dahulu merupakan tempat yang sangat potensial dan penting bagi pemerintal kolonial Belanda.  Bukan hanya bangunan kuno bergaya eropa yang dapat anda temui, bangunan kuno berarsitektur Tiongkok pun banyak terdapat di Bangka bahkan cukup banyak sisa-sisa perkuburan etnis cina kuno di Pulau Bangka.

Dengan tinggalan bangunan kuno bergaya eropa dan cina maupun perkuburan kuno etnis cina itu dapat diambil kesimpulan bahwa Bangka bukanlah pulau biasa, pulau ini sudah sangat eksis sejak dahulu kalah, lalu apa yang membuat Pulau ini telah eksis sejak dahulu?, serta apa pula yang menjadikan bangsa cina jauh-jauh berlayar ke Pulau Bangka hingga menetap dan menjadikan Bangka menjadi tanah air kedua ?, itu semua karena ada satu hal yang sangat memikat hati, orang bila itu emas putih, itu adalah Timah , yah timah atau dalam bahasa asing disebut Tin benda mineral logam yang harganya saat masa jaya selangit sehingga memikat hati imigran Cina dan penjajah Belanda berbondong-bondong datang ke Pulau Timah Bangka.  Kita ketahui Pulau Bangka dan Belitung merupakan pulau penghasil timah terbesar di Indonesia dan nomor 2 di dunia, timah Bangka diketahui memiliki kualitas yang sangat baik sehingga tidak menyulitkan saat pengolahan di dalam pabrik.  Timah memiliki manfaat yang sangat banyak diantarnya sebagai pelapis kaleng makanan siap saji, pelapis kaleng minuman, pelapis body mobil dll, namun sayang keberadaan timah yang sangat penting dan harganya yang tinggi tidak membuat rakyat di Bangka hidup dengan keadaan yang lebih baik, masi banyak warga Bangka yang tinggal di atas tanah yang kaya namun hidup dalam keadaan yang jauh dari kata layak, semua itu karena ketidak adilan, hanya sebagian saja orang yang dapat hidup layak dari Timah yang ada di Bangka dan sebagai besar merupakan warga pendatang dan warga asing yang datang ke Bangka untuk mengeruk habis timah di Bangka.

Memang kebaradaan timah adalah sebuah dilemah, di satu sisi keberadaannya sangat menguntungkan di sisi lain karena kandungan timah yang tinggi di bumi Bangka menjadikan banyaknya tanah dibangka yang diekplorasi habis-habisan sehingga menyisahkan kubangan bekas galian yang merugikan dan membahayakan bagi warga sekitar.  Timah semakin tahun semakin berkurang selayaknya benda tambang lainnya dan butuh waktu yang tidak singkat mengembalikannya seperti semula setidaknya butuh waktu lebih dari ribuan tahun proses alam untuk mengembalikan keadaan Bangka seperi awal.

Bila timah habis apakah Bangka akan terlupakan?, layaknya pepatah habis manis sepah dibuang?, jawabnya tentu tidak.  Bangka yang cantik akan terus eksis karena keindahan potensi alamnya lebih mahal dari harga timah sekalipun itulah yang akan membuat pulau Bangka akan terus hidup dan menjadi pemikat untuk orang terus datang mengunjunginya tanpa henti.

Kembali ke kisah perjalan kami berempat, setelah 2.5 jam menempuh jalur darat kami akhirnya tibah di ibu kota Provinsi Babel yaitu Pangkal Pinang, sesampai di pangkal kami langsung disambut hangat oleh ayahanda saudara M. Hafid Fitiran, ayah Hafid datang jauh-jauh dari Koba untuk menyebut kami berempat di pangkal, ayah Hafid sangat ramah dan bersahaja, kami berempat kemudian melanjutkan perjalanan dari Pangkal Pinang menujuh Koba tempat keluarga Hafid tinggal.  Perjalanan dari Pangkal Pinang ke Koba kami tempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi keluarga Hafid dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam.  Keadaan jalan darat dari Pangkal Pinang ke Koba hampir sama dengan jalan dari Mentok ke Pangkal Pinang dimana jalan sangat baik dan mulus, kemudian suasana jalan yang tenang karena tidak banyak kendaraan yang lalu lalang membuat mobil dapat dipacu dengan kecang namun kita harus tetap wasapada karena keadaan jalan banyak liku-liku dan tanjakan serta turunan yang terjal.

Sebelumnya sedikit info Provinsi Babel (Bangka Belitung) merupakan provinsi baru yang usianya kurang lebih 10 tahun, sehingga wajar di Ibu Kota Provinsi yaitu Pangkal Pinang terlihat banyak sekali bangunan-bangunan baru bergaya modern karena memang Babel sekarang sedang marak membangun agar tidak terlalu tertinggal dan dapat mengejar provinsi-provinsi lain yang usianya jauh lebih tua.  Babel sendiri dahulu merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan.

Sejam kemudian kami pun sampai di Koba, sebuah kota dibagian Bangka Tengah.  Di Koba kami tinggi di rumah keluarga Hafid di komplek perumahan perusahaan PT. Koba Tin.  Di Komplek Perumahan PT. Koba Tin banyak sekali terdapat pohon-pohon dengan ukuran besar sehingga membuat suasana di dalamnya sangat ribun dan asri.  Suasana tenang dan damai sangat terasa di dalam komplek yang berdampingan dengan pabrik PT. Koba Tin.  PT.  Koba Tin sendiri merupakan perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang penambangan dan pengolahan timah, perusahaan ini sendiri telah berdiri sejak tahun 1972.

Santapan pertama kami saat menginjakan kaki di kediamaan keluarga Hafid adalah buah duren yang dibeli oleh ayahanda Hafid di Kota Pangkal Pinang, saat kami datang di Bangka memang sedang musim durian, duren Bangka ukurannya kecil namun rasanya enak tidak kalah dengan duren-duren yang lebih populer lainnya,  selama 2 sampai 3 hari di rumah kediamaan Hafid kami selalu dihidangkan “penyuci” mulut buah duren yang dibelikan oleh ayahanda Hafid, selama itu pula kami berempat jadi “mabuk duren”, hampir setiap selesai makan duren kami mengeluarkan “angin” karena perut yang kembung terisi gas dari buah duren, kita ketahui bahwa durian adalah buah yang memiliki kandungan alkhol tinggi sehingga bila dikonsumsi dalam jumlah banyak akan membuat perut kembung dan badang menjadi hangat.

Hari pertama di Bangka, atau sore hari di Koba kami lewati dengan menghitari pantai sumur 7 yang terdapat persis di belakang komplek perumahaan PT. Koba Tin, kenapa pantai tersebut disebut pantai sumur 7 karena di dekat pantai tersebut terdapat 7 buah sumur yang dahulu digunakan sebagai tempat pembuatan garam namun saat perang kemerdekaan digunakan sebagai tempat pembuangan mayat korban perang, akibat peristiwa itulah ke 7 sumur  tersebut menjadi terkenal dan pantai di sana kemudian dinamakan pantai sumur 7.

Gambar 2.  Pantai Sumur Tujuh Koba

            Pantai sumur 7 sore itu sedikit mendung, angin berhembus sangat kecang dari arah laut sehingga gelombang yang datang ke panati cukup tinggi, suara deburan ombak dan angin yang kecang membuat sore di panati menjadi sangat damai, keberadaan pantai sumur 7 yang sepi membuat pantai itu bagaikan pantai pribadi milik kami sore hari itu.  Namun ada sedikit keprihatinan akan keadaan pantai indah itu, pantai sumur 7 kurang terawat sehingga sepanjang pantai di atas pasirnya yang lembut dan bersih banyak terdapat sampah yang berserakan, bila saja pantai ini lebih bersih tentu pesonanya akan lebih tampak dan keadaannya akan lebih indah terlihat bukan tidak mungkin akan menjadi pontesi yang sangat besar bagi aset wisata Pulau Bangka.

Tidak lupa kami mendokumentasikan keberadaan kami di pantai sumur 7 yang elok itu, hingga tak terasa waktu sudah hampir larut malam, suara azan sebentar lagi berkumandang sehingga kami berlari bergegas untuk segerah pulang ke rumah dan ternyata dari kejauhan tampak ayahanda saudara Hafid telah menunggu untuk menjemput kami pulang, tampak terlihat bahwa iya seorang ayah yang sangat memperhatikan anaknya.

Keesokan harinya pada hari jumat tanggal 30 Desember 2011, kami lalui sholat jumat di masjid PT. Koba Tin yang berada masih di dalam komplek perumahaan PT. Koba Tin, masjidnya sangat bangus dengan pendingin udara di dalamnya sehingga membuat para jemaah menjadi sangat nyaman beribadah di sana.  Sore hari kami diajak hafid bermain basket bersama dengan para pemuda di dalam komplek perumahan PT. Koba Tin, para pemuda itu sendiri merupakan teman-teman dari Hafid sehingga kami tidak canggung untuk ikut bermain bersama.

Gambar 3.  Lok Thew dan The Fusoi

            Malam harinya kami pergi menimati suasana malam di Kota Koba, kami berempat diajak oleh ayahanda saudara Hafid mencoba Lok Thew yang dalam bahasa Indonesia artinya Bubur Kacang Ijo bersama minumannya Teh Fusoi (Kembang Tahu) makanan khas etnis Cina ini  sudah sangat populer di Koba dan katanya warung Musoi ini merupakan yang tertua di sana, tempat tersebut sering dijadikan tempat nongkrong pemuda/i di Koba

 

Gambar 4.  Pantai Koba

            Sabtu tanggal 31 Desember 2011, pagi hari kami diajak Hafid ke pantai yang dulu katanya dijadikan lokasi shuting FTV (Film TV) salah satu stasiun TV swasta nasional yang berjudul “Cintaku Di Pantai Koba”.  Selepas dari pantai kami berkeliling kota Koba menggunakan motor, kami singgah ke komplek perkantoran Koba, dan mampir sejenak ke sebuah kelenteng yang tidak jauh dari kompleks PT Koba Tin, di klenteng ada kejadian unik dimana saya dan Hafid dipanggil dengan panggilan “akiau” oleh warga etnis cina setempat, kami berdua ditawarkan untuk masuk ke dalam klenteng namun karena kami muslim dan hanya ingin mendokumentasikannya saja sebagai seni fotografi arsitektur jadi kami menolaknya dengan sopan, menurut info dari ayahanda suadara Hafid panggilan “akiau” dalam adat cina adalah panggilan yang cukup istimewa atau bisa dikatakan sebuah penghargaan kepada yang di panggil, “akiau” sendiri artinya kurang lebih adalah paman, mereka memanggil kami dengan sebutan “akiau” mungkin mengira kami juga adalah seorang tiongkok karena wajah kami yang dikira mirip dengan mereka.  Lalu kemudian sore hari kami berempat bersama ayah, ibu serta saudara sepupuh perempuan Hafid bersiap pergi ke kota Sungai Liat untuk menghabiskan tahun baru di kota yang dahulu merupakan ibu kota kabupaten Bangka saat Babel masih ikut Provinsi Sumsel.  Sungai Liat sendiri menurut cerita dinamakan demikian karena keberadaan sungai dan tanah liat yang sangat terkenal dari daerah  itu, tanah liat dari kota sungai liat sangat terkenal karena kualitasnya yang sangat baik untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan batu bata dan genteng.

Perjalanan dari Koba ke Sungai Liat kurang lebih 2.5 jam dengan rincian dari Koba ke Pangkal Pinang 1 jam perjalanan dan dari Panggkal Pinang menujuh Sungai Liat 1.5 jam perjalanan darat menggunakan kendaraan pribadi.

Di sungai liat kami “diinapkan” di Wisma Timah Sungai Liat, bangunan wisma timah itu tampak sudah sangat tua dengan gaya arsitektur eropa kuno, nyatanya memang bangunan wisma timah tersebut merupakan bangunan bekas pemerintah kolonial Belanda saat masih menguasahi perusahaan timah di Pulau Bangka Belitung.

Malam tahun baru kami nikmati di tengah kota Sungai Liat, tadinya kami berencana akan menghabiskan tahun baru dipinggir pantai namun karena akses menujuh dan keadaan di semua pantai di Sungai Liat penuh dengan manusia yang ingin merayakan tahun baru mereka di pantai akhirnya kami urungkan niat ke pantai yang telah ramai, walaupun tidak dapat menikmati malam tahun baru dipinggir pantai kegembiraan kami dalam menikmati malam tahun baru tidak berkurang sedikit pun.  Barong Sai yaitu suatu hiburan khas bangsa Cina menjadi pengganti pantai di malam tahun baru kami di Sungai Liat, tidak jauh dari wisam tempat kami bermalam terdapat sebuah tempat tongkrongan para pemuda/i Sungai Liat dan di sana disediahkan acara kembang api serta Barong Sai dalam menyambut malam tahun baru, sebagai warga pendatang tentu hal ini merupakan acara gratis yang sangat menarik juga unik dalam mengisi malam tahun baru kami di Sungai Liat.

Besoknya Minggu, 1 Januari 2012, hari ke dua kami di Sungai Liat, setelah melewati tahun baru kami berempat pagi-pagi sekali sekitar pukul 9 pagi diajak ke pantai Tanjung Pesona oleh ayahanda Hafid.  Perjalanan dari kota Sungai Liat ke Pantai Tanjung Pesona ditempuh hanya 15 menit saja.  Di sana di Pantai Tanjung Pesona terlihat sampah yang banyak berserakan bekas para pendatang yang menghabiskan tahun baru mereka dipinggir pantai, walau begitu pantai Tanjung Pesona terlihat tetap mempesona dan indah,  sedikit demi sedikit pula terlihat mulai banyak warga yang datang ke pantai tersebut, saya yakin warga yang datang pagi itu merupakan warga yang bernasib sama dengan kami dimana mereka pastinya juga gagal menghabiskan tahun baru dipinggir pantai sehingga sebagai pelampiasan di pagi hari mereka langsung menujuh ke pantai untuk menebus ke gagalan semalam.

 

Gambar 5.  Pantai Tanjung Pesona Sungai Liat

            Pantai Tanjung Pesona memang sangat mempesona, disepanjang pantai banyak terdapat batu-batu granit yang besar terhampar, selain hamparan batu granit pasir dipantai tanjung pesona juga sangat memikat dengan warnanya yang putih dan sangat lebut diinjak kaki, batu-batu granit dan pasir lembut yang putih tersebut menambah pesona pantai tanjung pesona yang elok nan indah.

Tidak lupa tentunya kami mendokumentasikan keberadaan kami di Pantai Tanjung Pesona, setiap latar di pantai kami dokumentasikan satu persatu, hingga akhirnya kami menujuh ke sebuah tempat dengan pantai yang dihiasi batu-batu granit yang indah berjajar, pasir putih jernih, air laut yang biru serta pantainya yang tedung karena dikelilingi oleh pepohonan yang rindang, pantai yang kami lihat itu bagaikan sebuah harta karun yang baru saja kami temukan, sangat indah dan luar biasa serasa berada di dunia yang berbeda.  Akses menujuh ke sana harus dilalui dengan menuruni baru-batu granit yang sedikit licin, tajam dan terjal namun semuanya kami lalui dan sampai di pantai nan indah tersebut, pantai Teluk Uber namanya bersampingan langsung dengan resort Pantai Tanjung Pesona.

Pantai Teluk Uber yang baru kami temui bagai sebuah surga yang terselip diantara bebatuan granit yang tinggi dan kokoh berdiri.  Harsat tinggi untuk terjun mencicip asinnya air laut pantai Teluk Uber sekilas langsung muncul, tanpa piker panjang saya, Hafid, dan Abi langsung menyebur ke air asin berwarna biru di pantai Teluk Uber.  Alma yang tidak ikut mencicipi deburan ombak pantai Teluk Uber hanya memandang dari pinggir pantai sembari mendokumentasikan aktivitas kami bertiga.  Kami bertiga sangat menikmati hari itu, ombak yang tinggi namun bersahabat terus datang tiap detiknya tanpa henti mengayun-ayunkan tubuh kami yang terapung di atas air asin warna biru yang elok milik pantai Teluk Uber, ditambah lagi suasana adem di pantai karena rimbunnya pepohonan yang menaungi pantai itu semakin membuat betah kami menikmati suasana indah nan mempesona milik Pantai Teluk Uber.

Rasa tak ingin beranjak pergi sempat menghinggapi pikiran saya, namun kami harus segera pulang karena waktu menujukan hampir pukul 11 siang.  Kami pulang untuk sejenak beristirahat dan makan siang lalu kemudian meneruskan ke pantai-pantai lain yang juga tak kalah indahnya di daerah sekitaran Sungai Liat, Pulau Bangka.

Pukul 11 kami tiba di wisma, beristirahat lalu membersihkan diri, tak lama kemudian ayahanda Hafid menjemput kami lalu membawa kami ke rumah mbah dari saudara Hafid untuk makan siang.  Sebelumnya saat pertama kali kami sampai ke Bangka berbarengan dengan datangnya berita duka dari rumah Mbak saudara Hafid dimana Mbah dari saudara Hafid terjatuh di kamar mandi sehingga mengalami cedera patah tangan serta kaki.  Oleh karena itu kesempatan ke Sungai Liat sekaligus dijadikan kesempatan untuk menjenguk Mbah daripada saudara Hafid.

Setelah makan siang pukul 13 siang kami melanjutkan perjalanan, kali ini pantai yang kami tujuh adalah pantai Matras, pantai matras adalah pantai rakyat yang sejak jaman Belanda sudah menjadi salah satu tempat wisata favorit di sungai liat dan Bangka pada umumnya.  Pantai Matras saat malam tahun baru padat di datangi oleh pengujung apalagi saat malam tersebut di panati itu ada hiburan rakyat berupa konser tahun baru yang mengundang artis ibu kota yang sedang naik daun yaitu Ayu Ting Ting.  Ternyata walaupun malam tahun baru telah lewat pantai Matras tetap ramai dikunjungi warga, bahkan banyak warga yang datang dengan satu keluarga full membawa tikar dan rantang layaknya sebuah piknik.  Pantai Matras memiliki kelebihan tersendiri, garis pantai yang panjang dan luas, pasir pantai yang sangat putih bersih dan lembut serta harga masuknya yang murah sehingga menjadikan pantai ini sebagai saranan rekreasi favorit warga lokal yang sangat menyenangkan.  Pantai Matras juga dijuluki sebagai Kutanya Bangka karena pantai ini sekilas memang sangat mirip dengan pantai Kuta di Bali.

Setelah puas menikmati Pantai Matras perjalanan kami lanjutkan ke Pantai Batu Daun, kenapa namanya demikian, alasan dari diberikannya nama Pantai Batu Daun karena di pantai tersebut terdapat sebuah batu granit besar yang diatasnya ditumbuhi sebuah pohon berdaun jarang sehingga rakyat setempat menamakannya sebagai Pantai Batu Daun.  Berbeda dengan Pantai Matras, pantai Batu Daun ombaknya lebih tenang, serta sepanjang pantai banyak terdapat bebatuan granit.  Jarak antara pantai Matras ke pantai Batu Daun hanya 15 menit dengan menggunakan kendaraan pribadi.

Puas berwisata pantai kami mencoba mengunjungi satu lagi tempat wisata yang juga terdapat di Sungai Liat namun kali ini sangat jauh dari pantai, tempat wisata kali ini beradaan disebuah bukit yaitu Bukit Fathin San.  Bukit Fathin San merupakan sebuah bukit keramat bagai umat budha karena dipuncak bukit terdapat sebuah kuil ibadah bagai umat budhis.  Perjalanan menujuh puncak bukit Fathin San cukup melelahkan, kita harus menaiki ratusan anak tangga yang berkelok dan mendaki ke atas dengan sudut kemiringan yang cukup terjal sehingga cukup melelahkan bagi yang tidak memiliki stamina dan fisik yang prima, oleh alasan itulah ayah dan ibu daripada saudara Hafid menyatakan menyerah diawal untuk melanjutkan perjalanan hingga ke puncak bukit.  Sebelum mencapai puncak bukit kita dapat menjumpai sebuah kuil besar tempat umat budha beribadah, lalu terdapat sebuah kolam yang berisi puluhan ekor ikan hias ditambah air mancur yang keluar dari mulut sebuah patung naga di atasnya, dan terdapat pula sebuah gua di dalamnya terdapat tempat bersembayang umat budha.

Saat mencapai puncak bukit rasa lelah terbayar kontan oleh pemandangan indah yang terlihat dari atas bukit, untuk hari itu cuaca sangat bersahabat sehingga dengan jelas kita dapat memandang indah kota sungai liat dari atas bukit Fathin San.  Di atas bukit terdapat sebuah batu granit raksasa yang menjadi lantai alami bukit tersebut, dari atas batu granit itu kita dapat berdiri memandangi keindahan kota Sungai Liat dan nampak pula di ujung ke jauhan air laut pantai-pantai di pinggirian kota Sungai Liat.

Menyempatkan berfoto itu wajib dilakukan karena setiap moment dalam kehidupan hanya terjadi satu kali dan tidak akan terulang jikalau situasinya sama tapi berbedan waktu, keadaan dan ceritanya.

Setiap moment berharga wajib untuk didokumentasikan dengan rapi sebagai kenang-kenangan dimasa yang akan datang.  Lewat dokumentasi kelak kita akan tersenyum mengingat indahnya setiap moment di masa lalu kita.

Setelah puas melalui siang hingga sore hari menjelajahi pontensi wisata di Sungai Liat kami kembali ke rumah Mbah saudara Hafid, di sana kami beristirahat sejanak sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Koba, namun akibat mbah saudara Hafid tampak sedih bila anak dan cucunya langsung pergi kembali pulang maka dari itu akhirnya ayahanda saudara hafid memintak kami bersabar karena perjalanan pulang kami ke koba di tunda hingga selepas magrib, tentu kami tidak keberatan karena kami sendiri sudah sangat berterima kasih atas semua sajian yang diberikan selama di Kota Sungai Liat.  Sore itu kami lagi-lagi diberikan sugguhan makan sore sate dan soto khas Madura sebelumnya di hari sabtu kami pun diberi santap sore berupa sate dan soto khas Madura dari tempat yang sama karena kebutalan Om dari saudara Hafid adalah seorang pedatang sate dan soto Madura yang berada persis di depan rumah Mbah saudara Hafid.  Sate dan soto khas Madura ini asli diracik oleh tangan orang Madura karena istri dari Om saudara Hafid adalah asli orang Madura, sate dan soto berserta lotong begitu nikmat terasa, jujur saya sangat menyukai santapan itu terutama soto yang dicampurkan dengan bumbu kacang sate ditambah sedikit jeruk limun membuat rasanya sangat lezat.

Sedikit cerita sebelum menyantap santapan sore berupa sate dan soto Madura sebelumnya kami sempat diajak oleh saudara Hafid bernostalgia di Kota Sungai Liat karena dahulu saat masa SMA saudara Hafid menghabiskan masa sekolahnya di kota tersebut sehingga dia cukup banyak memiliki kenangan indah di kota itu.  Perjalanan nostalgia bersama Hafid kami awali ke taman Mekar Sari, di taman itu terdapat sebuah tanah luas yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar yang rimbun, di taman itu juga terdapat sarana olahraga berupa lapangan basket, futsal dan dahulu bola kaki, taman ini tiap sore ramai didatangi para kaula muda Sungai Liat untuk menghabiskan sejah hari di kota tersebut.  Perjalanan kemudian dilanjutkan ke rumah-rumah eks pejabat PT Timah, rumah-rumah eks PT Timah tersebut sangat unik dan kuno dengan gaya arsitektur eropa kuno khas bangunan kolonial peninggalan penjajah Belanda dan perlu diketahui salah satu rumah di sana pernah dijadikan tempat shuting FTV (Film TV) salah satu stasiun TV swasta nasional.

Kembali ke cerita, selepas magrib kami kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke Koba tepatnya pukul 7 malam, kami berpamitan dengan seisi rumah tak terkecuali Mbah Hafid yang masih tergeletak di atas ranjang kamarnya.  Jujur keluarga Hafid di rumah Mbah Hafid semuanya sudah selayaknya saudara sendiri bagi kami karena sudah sangat ramah dan baik menyambut kami, tentunya pengalaman berada di Sungai Liat sangatlah mendalam di hati kami, keluarga Hafid di Sungai Liat sangat hangat dan bersahabat, sifat mereka yang sangat kekeluargaan itu telah memiliki satu tempat tersendiri di hati kami sehingga akan selalu terkenang indah dalam sanubari kami, kami berharap semoga kelak suatu hari nanti kita dapat berjumpa dan berkumpul lagi. Amin.

Senin tanggal 2 Januari 2012 di Koba, tidak banyak yang kami lakukan karena masih lelah setelah melakukan aktivitas yang cukup full di hari kemarin.  Untuk mengisi waktu yang kosong kami mencoba membeli bola kaki, bola kaki itulah yang menemani kami seharian di hari itu, kami bermain sepak bola di lapangan bola PT. Koba Tin konon katanya saat Bambang Pamungkas ikon pemain sepak bola nasional masih muda pernah bermain di lapangan itu bersama Timnas sepakbola junior PSSI melawan kesebelasan selection Bangka.  Cukup membanggakan saya pernah mencoba bermain di lapangan yang dulu pernah dicoba juga oleh Bepe20 (Bambang Pamungkas).  Walaupun hanya bermain berempat tidak mengurangi sedikitpun suasana riang dan gembira kami dalam menendang bola hingga tanpa terasa kaki kami merah lebam karena menendang bola tanpa menggunakan alas sepatu.  Kemudian kami diajak hafid berkeliling kompleks perumahaan PT Koba Tin dengan menggunakan motor melihat-lihat suasana sore di kompleks tersebut, lalu singgah sejenak di pantai yang tidak jauh dari kompleks itu, di pantai yang tidak saya ketahui namanya itu kami berempat kembali mencoba memainkan bola dengan riang dan gembira.

Selasa tanggal 3 Januari 2012, kami berempat diajak oleh ayahanda saudara Hafid pergi ke kota Pangkal Pinang untuk membeli oleh-oleh khas Bangka yaitu getas dan membeli tiket pulang ke Palembang.  Sejam perjalanan dari Koba ke Pangkal Pinang kami lalui dengan selamat, sesampai di Pangkal Pinang kami langsung diantar membeli tiket Jet Poil Sumber Bangka dengan tujuan pulang Ke Palembang, lalu perjalanan dilanjutkan membeli oleh-oleh snack khas Bangka yaitu getas yang dibeli langsung di agen dimana harganya tentu saja setengah harga lebih murah dibandingkan membeli merek serupa yang sudah didistribusi ke tokoh besar.  Siang hari kami diajak makan siang dipinggir pantai Pasir Padi.

Makan siang di pantai pasir padi sungguh berkesan, hembusan angin laut yang begitu kecang menjadikan makan siang itu lebih nikmat.  Suasana pantai yang tenang dan damai memang sang cocok dijadikan sebagai tempat beristirahat atau kumpul keluarga.

Selepas menikmati makan siang dan sedikit berkeliling pantai pasir padi kami kemudian meneruskan perjalanan.  Perjalanan kami kemudian lanjutkan menuju toko tempat penjualan pakaian dan souvenir khas Bangka.

Namun sebelum pergi mencari souvenir khas Bangka kami sempat singgah ke Masjid Jami’ Bangka, konon katanya ini adalah masjid tertua di Bangka.  Kami sempatkan untuk sholat dzuhur di sana sebelum melanjutkan perjalanan.

Toko Pundok Shang menjadi pilihan temat kami membeli pakaian dan souvenir khas Bangka.  Di toko Pundok Shang saya, Abi dan alma sibuk mencari pakaian kaos yang ingin kami beli sebagai ole-ole dan bukti bahwa kami pernah ke Bangka sedangkan Hafid tidak ikut memilih karena dia tidak tertarik untuk membeli.  Setelah memilih koas yang dinggap menarik, kami bertiga juga membeli gantungan kunci unik berbentuk pulau Bangka.

Selesai membeli souvenir khas Bangka perjalanan kemudian adalah ke Museum Timah Indonesia, museum timah di Bangka merupakan museum timah yang tertua di Indonesia yang dibuat atas prakarsa PT Timah Indonesia agar masyarakat luas tahu bagaimana sejarah awal ditemukan timah, sejarah awal penambangan timah, perkembangan teknologi pertambangan timah, sejarah pergerakan Indonesia di Pulau Bangka, dan masih banyak lagi.  Museum Timah ini baru saja direnovasi sehingga saat pertama kali memasukinya kami sangat takjub dan terkesan dengan susunan koleksi museum yang tertata rapi, bersih, dan terlihat masih sangat baru.  Teman saya Hafid yang notabene adalah orang Bangka saja takjub saat masuk ke museum Timah karena ini adalah kunjungan pertamanya ke museum tersebut, selain itu sebelumnya banyak pemberitaan bahwa museum timah tidak pantas dikunjungi karena jelek tapi nyatanya sekarang museum timah berbenah dan kondisinya sangat baik dan merupakan salah satu rekomendasi tujuan wisata bagi anda yang kebetulan berlibur di Pulau Bangka.

 

Gambar 6.  Museum Timah Indonesia

 

Gambar 7.  Museum Timah Indonesia di Pangkal Pinang, Bangka

            Setelah mendapatkan banyak ilmu dan info tentang sejarah timah di Pulau Bangka kami pun pergi meninggalkan museum tersebut, perjalanan hari itupun berakhir, museum timah merupakan destinasi terakhir perjalanan kami hari itu.

Rabu tanggal 4 Januari 2012 merupakan H min 1 sebelum pulang ke Palembang esok harinya.  Oleh karena itu hari ini kami habiskan sebagai hari menikmati suasana di kota Koba.  Hari itu kami berempat berkeliling komplek perumahan PT Koba Tin dengan menggunakan motor, Hafid sebagai guide menujukan dan menceritakan satu per satu tempat yang dianggap bersejarah dalam hidupnya, perjalanan dimulai dengan menujukan letak rumah keluarga Hafid sebelum tinggal di rumah yang sekarang, lalu pergi ke komplek perumahan satpam, tempat penyemaian bibit tanaman yang akan digunakan sebagai tanaman konservasi lahan tambang, mencoba menaiki bukit dibelakang lapangan sepakbola dengan menggunakan motor bebek yah tentu saja tidak akan berhasil apalagi saya dan Hafid berbadan cukup besar sehingga motor bebek itupun tak mampu mendaki tebing yang ada kami terpelosok kembali kebelakang, lalu kami diajak mengunjungi SMP tempat Hafid dulu bersekolah bersama dengan berbagai kisah-kisah berkesan waktu dia sekolah dulu, sampai nongkrong di tempat yang sering dijadikan sebagai tongkrongan wajid pemuda/i di komplek perumahan PT Koba Tin tempat tongkrongan itu sendiri sering disebut dengan nama “simpang pangkalan ojek” karena banyaknya motor yang diparkir saat para pemuda nongkrong di sana.

Sore menjelang malam pun ada cerita, kami sempat dibelikan oleh Ibunda saudara Hafid sebuah makanan etnis cina namun khas koba yaitu Panthiau.  Panthiau konon katanya bearti Panthi artinya setengah dan au artinya marah jadi artinya setengah marah, entah benar atau tidak saya pun tak mengerti.  Panthiau sendiri merupakan makanan yang terbuat dari ubi dengan bentuk seperti mie dimakan bersama dengan kua yang rasanya seperti kua tekwan Palembang bersama dengan pempek yang juga terbuat dari bahan ubi.  Hari yang indah dan akan terkenang selalu.

Kami tanggal 5 Januari 2012, pagi-pagi sekali pukul 4.30 WIB kami semua sudah bangun dan mandi lalu kemudian makan, kami harus segera bergegas karena mobil jemputan yang akan menghantarkan kami ke Pangkal Pinang akan tiba pukul 5 pagi.  Hari ini kami akan berangkat pulang ke Palembang.  Pengalaman berharga selama di Bangka sangat berkesan, kebaikan dan keramahan ibu dan ayah saudara Hafid tak akan terlupa.  Menimati duren, Lok Tew, Teh Fusoi, Sea Food khas Bangka yang segar tersedia setiap hari sampai makanan khas Panthiau sungguh nikmat dan ingin untuk dicoba lagi.  Keindahan panorama pantai-pantai dibangka yang mempesona, tempat wisata sejarah dan budaya di Bangka yang unik itu semua adalah harta tak ternilai yang pernah saya lihat dan temui.  Indonesia yang indah dengan penduduknya yang ramah tamah terbukti nyata di Pulau Bangka.  Pengalaman ini tidak akan pernah terlupa.  Pengalaman ini akan selalu terniang di dalam hati sanubari kami.

 

Gambar 8.  Empat Dalam Satu

            Terima kasih Hafid, terimakasih keluarga besar Hafid, terima kasih sebesar-besarnya untuk Ayah dan Ibu saudara Hafid dan tidak lupa terima kasih pula dengan saudara sepupuh Hafid.

 

Gambar 9.  Empat Serangkai 2011

            Kami pun pulang, tiba di Pangkal Pinang pukul 7 pagi lalu kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan Bus Engkel Garuda yang lagi-lagi 10 menujuh ke Pelabuhan Mentok.  Sampai di Mentok pukul 10 pagi lalu naik Jet Poil Sumber Bangka 6.  Tiba di Palembang puku 12 siang.  Baru keluar dari pelabuhan Boom Baru terlihat pedagang pempek panggang dan dahaga akan cuko pempek kami (aku dan Hafid) lampiaskan di tempat itu.   Sampai jumpa diperjalanan yang berikutnya.

B.  Tips dan Trik ke Bangka

Tempat dan waktu tempuh :

Boom Baru Palembang à Mentok                  = kurang lebih 2,5 jam

Mentok à Pangkal Pinang                             = kurang lebih 3 jam

Pangkal Pinang à Koba                                = kurang lebih 1 jam

Pangkal Pinang à Sungai Liat                       = kurang lebih 1,5 jam

Rincian biaya ke Bangka dan di Bangka:

Jet Pol Sumber Bangka           = Rp 185.000,-/ sekali jalan

Bus Engkel Garuda                 = Rp 65.000,-/ sekali jalan

Nasi Telur                               = Rp 13.000,-/ porsi

Getas makan khas Bangka      = Rp 46.000,-/kg

T-shirt Pundok Shang (L)         = Rp 70.000,-/ buah

Gantungan Kunci Bangka        = Rp 10.000,-/ buah

Ristribusi atau biaya masuk pantai di Bangka :

Gambar 10.  Resort Tanjung Pesona Bangka

      Pantai Sumur 7                      = Gratis

Pantai Tanjung Pesona           = kurang lebih Rp 10.000,-/orang

Pantai Teluk Uber                   = tidak diketahui

Pantai Matras                        = kurang lebih Rp 5.000,-/orang

Pantai Batu Daun                   = Gratis

Pantai Pasir Padi                   = kurang lebih Rp 5.000,-/ per mobil

Ristribusi masuk museum di Bangka :

Gambar 11.  Museum Timah Indonesia, Bangka

      Museum Timah                       = Gratis

*harga per 29 Desember 2011 sampai 5 Januari 2012, harga sewaktu-waktu dapat berubah.

5 Tanggapan

  1. kapan ke pangkal lg,,brooo??

  2. If some one wants expert view regarding blogging and site-building then i advise him/her to go to
    see this blog, Keep up the fastidious job.

  3. Keren bgt gan, jd g sbar pgen k bangka.

  4. keren banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: